kebaikan

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

مَنْ رَغِبَ عَنْ إِنْفَاقِ مَالِهِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ ابْتُلِيَ بِإِنْفَاقِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ وَهُوَ رَاغِمٌ.

“Siapa yang tidak suka membelanjakan hartanya untuk ketaatan kepada Allah, maka ia akan ditimpa (musibah) dengan membelanjakannya untuk selain Allah dalam keadaan ia tidak menyukainya..


وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ التَّعَبِ لِلَّهِ ابْتُلِيَ بِالتَّعَبِ فِي خِدْمَةِ الْخَلْقِ وَلَا بُدَّ.

Demikian juga siapa yang tidak suka keletihan untuk Allah, maka ia akan ditimpa dengan keletihan untuk melayani makhluk, mau tidak mau..


وَكَذَلِكَ مَنْ رَغِبَ عَنِ الْهَدْيِ بِالْوَحْيِ، ابْتُلِيَ بِكُنَاسَةِ الْآرَاءِ وَزِبَالَةِ الْأَذْهَانِ، وَوَسَخِ الْأَفْكَارِ.

Demikian juga siapa yang tidak suka dengan petunjuk yang berasal dari wahyu, maka ia akan ditimpa dengan pendapat yang kotor, sampah pikiran, dan limbah pemikiran..


فَلْيَتَأَمَّلْ مَنْ يُرِيدُ نُصْحَ نَفْسِهِ وَسَعَادَتَهَا وَفَلَاحَهَا هَذَا الْمَوْضِعَ فِي نَفْسِهِ وَفِي غَيْرِهِ.

Oleh karena itu, siapa saja yang menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keberuntungan untuk dirinya, hendaklah ia memperhatikan hal ini pada dirinya dan pada orang lain..”

( Madarijus Salikin 1/184 )

Sumber: BBG Al-Ilmu