dzikir shalat

[ 1️⃣ ] ISTIGHFAR TIGA KALI DAN BACAAN: “ALLOHUMMA ANTAS SALAM”

📚 [ HADITS TSAUBAN ] 📚

قَالَ ثَوْبَانُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” كَانَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ (يَا) ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”

Tsauban berkata, “Sesungguhnya kebiasaan Rosulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam jika telah berpaling dari sholatnya beliau beristighfar 3 kali, lalu berkata,
“Allohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom”.
(Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan hanya dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).
(HR. Muslim, no. 591; Abu Dawud, no. 1513; Nasai, no. 1337; Ibnu Majah, no. 928; Tirmidzi, no. 300; Ahmad, no. 22365)

Di dalam riwayat Muslim ada tambahan:

قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ: ” كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ “

Al-Walid (seorang perawi) berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza’i: “Bagaimana istighfar itu?”,
dia menjawab: “Engkau membaca astaghfirulloh, astaghfirulloh (Aku minta ampun kepada Allah)” (HR. Muslim, no. 135/591)

📚 [ HADITS ‘AISYAH ] 📚

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلَّا مِقْدَارَ مَا يَقُولُ: “اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ (يَا) ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”

Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Kebiasaan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam jika telah mengucapkan salam (dari sholatnya), beliau tidak duduk (yakni menghadap kiblat) kecuali sekedar mengucapkan: “Allohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta (ya) dzal jalaali wal ikrom”. (HR. Muslim, no. 592; Ibnu Majah, no. 924; Tirmidzi, no. 298)

🌐 [ FAWAID HADITS ] 🌐

Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:

[ 1️⃣ ] Kebiasaan Rosulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam setelah salam dari sholat beristighfar tiga kali dan membaca, “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom”.

[ 2️⃣ ] Hikmah istighfar adalah memohon ampun dari kekurangan di dalam menjalankan kewajiban sholat.

[ 3️⃣ ] Kebiasaan Rosulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam setelah salam dari sholat, duduk sebentar menghadap kiblat sekedar membaca, “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom”, lalu menghadap makmum.

[ 4️⃣ ] Imam Asy-Syaukani (wafat th 1250 H) rohimahulloh berkata:

يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ هَذَا الذِّكْرُ وَالِيًا لِلسَّلَامِ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ لِتَقْيِيدِ الْقَوْلِ بِهِ بِوَقْتِ التَّسْلِيمِ وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ هَذَا الذِّكْرِ بَعْدَ الصَّلَاةِ مَرَّةً وَاحِدَةً لِعَدَمِ مَا يَدُلُّ عَلَى التَّكْرَارِ.

“Dzikir ini sepantasnya (diucapkan) mengiringi salam didahulukan dari dzikir lainnya, karena penentuan perkataannya waktu salam. Dan hadits ini menunjukkan disyari’atkan dzikir ini (diucapkan) satu kali karena tidak ada yang menunjukkan pengulangan”. (Nailul Author, 2/354)

[ 5️⃣ ] Syaikh Ahmad Ath-Thohthowi Al-Hanafi (wafat th 1231 H) rohimahulloh berkata:
“Dari hadits yang akhir diambil faedah: kebolehan meninggikan suara dengan dzikir dan takbir setelah sholat wajib. Bahkan sebagain Salaf yang mengatakan itu sunnah. Dan ini dipastikan oleh Ibnu Hazm dari kalangan Muata’akhirin”. (Hasyiyah Ath-Thohthowi ‘Ala Maroqil Falah Syarah Nuril Idhoh, hlm. 312)

Perlu diketahui bahwa membaca dzikir asalnya diperintahkan dengan suara pelan. Namun untuk dzikir bakda sholat, apakah dengan sir (pelan) atau jahr (keras) dengan tanpa berjama’ah, diperselisihkan ulama, maka sepantasnya kita berlapang dada di dalam masalah ini.
Ini berbeda dengan dzikir berjama’ah dengan suara keras dan satu suara, ini tidak dituntunkan.
Wallohu a’lam.

[ 6️⃣ ] Sebagian orang menambahi dzikir di atas dengan perkataan:

وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا دَارَ السَّلاّمِ

Saya tidak mengetahui adanya riwayat dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam. Maka perkataan ini sebaiknya ditinggalkan, kecuali ada riwayat yang shohih dari Nabi. Karena ibadah itu dengan mengikuti tuntunan Nabi, bukan dengan perasaan hati atau mengikuti kebiasaan. Wallohu a’lam.

Yang ada riwayatnya, bahwa sebagian kalimat itu diucapkan sebagain Salaf ketika melihat ka’bah.


Kemudian saya dapati perkataan seorang ulama, Syaikh Ali bin Sulthon Al-Qori (wafat th 1014 H) rohimahulloh:

قَالَ الشَّيْخُ الْجَزَرِيُّ فِي تَصْحِيحِ الْمَصَابِيحِ: وَأَمَّا مَا يُزَادُ بَعْدَ قَوْلِهِ: وَمِنْكَ السَّلَامُ مِنْ نَحْوِ وَإِلَيْكَ يَرْجِعُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا دَارَكَ دَارَ السَّلَامِ – فَلَا أَصْلَ لَهُ بَلْ مُخْتَلَقُ بَعْضِ الْقُصَّاصِ،

“Syaikh Al-Jazari berkata di dalam kitab Tash-hihul Mashobiih, “Adapun (kalimat) yang ditambahkan setelah ucapan “waminkas salaam” seperti ucapan “wailaika yarji’us salam, fahayyinaa Robbanaa bis salaam, wa adkhilna daroka daros salaam”, maka tidak ada dalilnya, bahkan itu kedustaan sebagian para pendongeng (penceramah)”. (Mirqotul Mafatih Syarah Misykatil Mashobiih, hlm. 2/761)

Kemudian perkataan Syaikh Ali Al-Qori (wafat th 1014 H) itu dinukil oleh Syaikh Ahmad Ath-Thohthowi (wafat th 1231 H) di dalam kitabnya, Hasyiyah Ath-Thohthowi ‘Ala Maroqil Falah Syarah Nuril Idhoh, hlm. 311-312. Juga oleh Syaikh ‘Ubaidulloh bin Muhammad Al-Mubarokfuri (wafat th 1414 H) di dalam kitabnya, Mir’atul Mafatih Syarah Misykatil Mashobiih, 3/316.

[ 7️⃣ ] Sebagian orang langsung bersujud setelah salam, ini menyelisihi tuntunan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam yang mengajarkan istighfar setelah salam.

Inilah sedikit penjelasan tentang hadits yang agung ini. Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju sorga-Nya yang penuh kebaikan.

Ditulis oleh Ust. Muslim Atsari

_/////✒️

Reshare by Yayasan Islam Al-Furqon (YIAF) Magelang

AYO SEDEKAH RAME-RAME
Donasi Pembangunan
LANTAI 2 MASJID, MENARA, & RUMAH USTADZ
SD ISLAM TAHFIDZUL QUR’AN AL-IKHLASH MAGELANG

Rekening:
BRI 0048 01 001094 565 a.n Yayasan Al Furqon

İnfo: 0819 1550 2000 (Ust. Muhammad Wujud)

www.yiafcare.com
Follow IG: www.instagram.com/yiafcare
Like FB: www.facebook.com/yiafcare